Orang-orang terus bertumbuh tanpa menyadari ada luka batin yang dirasakan oleh inner child dalam diri mereka semasa dalam pengasuhan orang tua.
Hal inilah yang menyebabkan seseorang semakin mudah tersulut emosinya. Sayangnya, tidak semua orang tahu dan sadar bahwa inner child dalam diri mereka sedang terluka.
Inner Child adalah sifat kekanak-kanakan yang dimiliki pada diri seseorang. Inner Child merupakan pengalaman masa lalu yang tidak atau belum mendapatkan penyelesaian dengan baik.
Orang dewasa bisa memiliki berbagai macam kondisi inner Child yang dihasilkan oleh pengalaman positif dan negatif yang dialami pada masa lalu.
Misalnya, dulu waktu kecil sering dibentak sama orang tua, pernah melihat orang tua bertengkar, atau punya orang tua yang terlalu menuntut.
Hal ini bisa menjadi penghambat atau justru pendorong seorang individu untuk tumbuh dan berkembang, tergantung bagaimana menyikapinya.
Inner child dapat terluka ketika seseorang mendapatkan pengalaman menyakitkan seperti menjadi korban kekerasan selama masa kanak-kanak, baik kekerasan secara fisik, kekerasan verbal, juga kekerasan psikis.
Buruknya pengasuhan dari orang tua serta tidak harmonisnya hubungan dalam keluarga juga dapat melukai inner child seseorang.
Luka tersebut apabila tidak disadari dan tidak disembuhkan, maka akan terbawa hingga ke kehidupan dewasa. Lalu apa yang bisa dilakukan ketika inner child terluka?????
Yaitu dengan : “ Menyembuhkannya”.
Setiap orang memiliki ‘inner child’ nya masing-masing dengan kondisi yang berbeda-beda, hal pertama yang perlu disadari adalah bagaimana hubungan kita dengan ‘inner child’ dalam diri kita ini.
Yang kedua, cara yang benar untuk mengatasi masalah ketidakstabilan inner child yaitu dengan mencoba memahami serta memulai berkomunikasi kepada inner child tersebut.
Menurut ahli psikolog klinis Amerika Stephen A. Diamond : bahwa kita membutuhkan waktu yang disediakan untuk memahami dan mendengarkan inner child pada diri kita sendiri.
Kebutuhan akan cinta, kasih sayang, penerimaan, pengasuhan serta merasa dipahami oleh orang lain adalah bagian inner child yang harus tercukupi bagi setiap orang, tentunya dengan kadar yang berbeda-beda. Hal ini bergantung kepada pengalaman positif dan negatif masa lalu yang kita alami.
Yang ketiga, Mengabaikan hubungan diri dengan inner child kita yang justru akan menjadi rantai derita yang tidak berujung hingga lahir generasi berikutnya.
Cukupkan rantai derita ini pada diri kita. Putuslah rasa sakit yang turun temurun ini hanya pada diri kita dan tidak meneruskannya ke generasi selanjutnya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa seseorang yang dikatakan dewasa adalah mereka yang menerima masa lalu, memahami kebutuhan inner child serta memenuhinya tanpa bergantung kepada orang lain ataupun menyusahkan orang lain.
Penerapan disiplin, serta mengetahui batasan-batasan diri adalah hal yang penting dalam pemenuhan kebutuhan inner child bagi orang dewasa yang stabil dalam emosi, perilaku dan lingkungan sosial.[rsjdahm.kaltimprov.go.id]
SUMBER REFERENSI :
Leave a Reply